2026: Dunia Baru, Industri Baru, Tantangan Baru, Strategi Baru
Landscape industri dunia saat ini tidak lagi didominasi oleh satu kutub dan tidak lagi linier. Dinamika global, tekanan keuangan, geopolitik, multipolaritas ekonomi, termasuk fragmentasi rantai pasok dan tarik menarik kepenting China dan Amerika Serikat dan blok ekonomi lainnya telah menciptakan lingkungan baru yang serba penuh risiko. Dalam hal ini Indonesia tidak bisa hanya sebagai penonton yang pasif, namun harus mempunyai agenda inisiatif yang kuat, adaptif, lincah, berdaya saing dan tetap berdaulat. Asta Cita yang merupakan 8 agenda prioritas industri nasional telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai Kompas jangka menengah dan panjang untuk meningkatkan industri dalam negeri. Agar industri nasional bisa lebih kuat, berdaya saing, adaptif dan lincah, maka perlu sebuah enabler atau pendorong yang lebih dinamis, responsif terhadap perubahan global dan terintegrasi secara kebijakan. Disinilah Strategi Baru Industri Nasional (SBIN) mempunyai peran penting dalam ekosistem industri nasional.
Kementerian Perindustrian: Perubahan Global dan Urgensi SBIN
Sebagai enabler, SBIN berperan sebagai kekuatan integratif yang menjembatani cita-cita industri nasional dengan realitas pasar global yang dinamis. Dunia yang multipolar menawarkan peluang diversifikasi mitra dan lompatan teknologi, tetapi juga menyimpan risiko proteksionisme, fragmentasi perdagangan, dan persaingan strategis yang dapat menyingkirkan negara yang tidak siap termasuk Indonesia. SBIN merespons ini dengan mendesain ulang pendekatan industri nasional, dari yang bersifat reaktif dan defensif menjadi ofensif-strategis. Strategi ini mengakui bahwa kedaulatan industri hari ini tidak lagi hanya tentang memiliki pabrik di dalam negeri, melainkan tentang menguasai titik-titik kritis dalam rantai nilai global mulai dari teknologi, bahan baku, hingga logistik. Oleh karena itu, fokus SBIN secara alami selaras dengan pilar-pilar Asta Cita, namun dengan penekanan khusus pada membangun ketahanan, nilai tambah, dan inovasi yang berbasis pada keunggulan dalam negeri.
Peran SBIN sebagai penggerak Asta Cita akan terlihat dalam beberapa hal sebagai berikut: Pertama, dalam mendorong investasi strategis yang berbasis pada peluang geopolitik. Era friendshoring atau de-risking yang dilakukan oleh banyak negara maju membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi tujuan alternatif investasi industri berteknologi tinggi. SBIN melihat peluang ini dengan menyalurkan insentif dan kemudahan berusaha secara tepat sasaran ke sektor-sektor industri Asta Cita, seperti industri pangan, industri hijau (baterai kendaraan listrik, energi terbarukan), industri kesehatan (farmasi dan alat kesehatan) dan industri sandang (tekstil dan alas kaki). Dengan demikian, agenda ketahanan pangan, energi dan kesehatan tidak hanya dipenuhi dari dalam, tetapi juga diperkuat oleh aliran modal dan pengetahuan dari mitra global yang mencari basis produksi yang andal dan netral.
Kedua, SBIN berfungsi sebagai katalisator penguatan ekosistem inovasi dan teknologi domestik. Digitalisasi dan ekonomi hijau yang menjadi penting dari beberapa agenda Asta Cita. SBIN mendorong percepatan adopsi teknologi 4.0, pengembangan SDM industri yang kompeten, dan riset terapan yang berorientasi pada kebutuhan industri nyata. Strategi ini memastikan bahwa industrialisasi Indonesia tidak terjebak dalam pola lama yang mengandalkan tenaga kerja murah dan ekstraksi sumber daya mentah, melainkan bertransisi menuju industri yang berbasis pengetahuan, digital, dan berkelanjutan. Inovasi menjadi pengungkit utama untuk meningkatkan daya saing sektor-sektor seperti ekonomi kreatif, maritim, dan pariwisata yang juga menjadi bagian dari Asta Cita.
Ketiga, SBIN memfasilitasi hilirisasi dan penguatan rantai pasok yang tangguh. Saat ini dunia rentan terhadap gejolak geopolitik, ketergantungan pada satu sumber bahan baku atau satu jalur logistik bukan lagi pilihan untuk membangun daya saing industri. SBIN melakukan identifikasi menyeluruh, khususnya untuk industri pendukung ketahanan pangan dan energi, lalu merancang strategi substitusi impor, diversifikasi pemasok, dan yang terpenting, pengembangan industri hulu di dalam negeri. Pendekatan ini menjadikan industri nasional tidak hanya lebih mandiri, tetapi juga lebih tangguh dalam menghadapi gejolak.
Keberhasilan SBIN sebagai enabler Asta Cita secara krusial bergantung pada tiga pilar integratif: pertama, koordinasi yang kuat dan sinkron antara Kementerian Perindustrian, kementerian/lembaga terkait, serta pemerintah daerah, untuk memastikan keselarasan kebijakan dan implementasi yang efektif di lapangan. Melalui SBIN, Kementerian Perindustrian tidak hanya memiliki daftar tujuan industri nasional, tetapi memiliki sebuah sistem penggerak yang hidup, responsif, dan mampu membawa bangsa ini melalui era multipolar menuju masa depan industri yang berdaulat, berdaya saing, dan berkelanjutan. Inilah esensi dari strategi baru untuk dunia baru, SBIN.
Alfiyan Darojat - BPIPI





