Posisi Kelima Menuju Pusat Global:
Peluang Indonesia di Tengah Perombakan Rantai Pasok Alas Kaki Dunia
Menukil dari Laporan World Market Footwear (WMF) 2026 menggambarkan industri alas kaki global masih menghadapi tantangan stabilitas meskipun kinerja produksi membaik. Produksi dunia tahun 2025 hanya tumbuh 0,1% menjadi 24,6 miliar pasang, dan Asia masih menguasai 88,7% total produksi. Namun, di balik angka-angka yang datar ini, terjadi perombakan besar-besaran dalam rantai pasok global. Perang dagang, kebijakan tarif, dan kenaikan biaya produksi di negara-negara tradisional telah memaksa para pemain besar untuk mencari pusat-pusat manufaktur baru.
Konstelasi perdagangan yang berubah ini, Indonesia memiliki posisi yang unik. Indonesia memang bukan lagi produsen terbesar ketiga dunia, kinerja Indonesia turun ke peringkat kelima dengan produksi 782 juta pasang pada 2025, di bawah Brasil, Vietnam, India, dan tentu saja China. Namun, jika kita hanya melihat peringkat produksi, kita akan kehilangan gambaran yang jauh lebih penting dan peluang besar di masa depan.
Fakta kuncinya adalah: Indonesia adalah eksportir alas kaki nomor 3 dunia. Dengan volume ekspor mencapai 585 juta pasang (atau 4% pangsa global) dan nilai tembus 7,98 miliar dolar AS, Indonesia bukanlah pemain baru, melainkan salah satu pilar utama rantai pasok global sejak 3 dekade lebih. Pertanyaannya sekarang adalah: bagaimana Indonesia bisa memanfaatkan momentum ini untuk naik kelas dan berkontribusi lebih besar terhadap kinerja industri alas kaki global?
Pencapaian yang Sering Terlewatkan
Data dari Aprisindo (Asosiasi Persepatuan Indonesia) menunjukkan kinerja yang menggembirakan. Ekspor alas kaki tahun 2025 mencapai 7,98 miliar dolar AS, tumbuh 9,54% secara tahunan, dan secara kumulatif telah melonjak lebih dari 65% sejak tahun 2020. Ini bukan kebetulan, hal ini adalah kerja sama dan bukti komitmen pemangku kepentingan industri alas kaki nasional.
Dari segi pasar, Amerika Serikat masih menjadi prioritas penyerapan utama produk alas kaki dengan menyerap sekitar 30% ekspor alas kaki nasional (sekitar 2,8 miliar dolar). Disusul oleh Uni Eropa (17,6 miliar dolar) dan China (5,04 miliar dolar). Yang menarik, produk alas kaki Indonesia kini telah menjangkau 132 negara di dunia, sebuah diversifikasi pasar yang sangat sehat dan mengurangi ketergantungan berlebih pada satu kawasan tertentu seperti Amerika Utara dan Uni Eropa.
Lebih dari sekadar angka ekspor, Indonesia telah menjadi tulang punggung produksi bagi merek-merek global. Sekitar 30% pekerja pabrik sepatu Nike dan Adidas di seluruh dunia berada di Indonesia. Pada tahun 2024 saja, sektor alas kaki diperkirakan menyerap tambahan 7.644 tenaga kerja baru, sehingga total tenaga kerja langsung mencapai 272.000 orang. Ini membuktikan bahwa Indonesia bukan sekadar eksportir utama dunia, tetapi adalah mitra manufaktur yang strategis bagi merek-merek besar dunia.
Tantangan: Mengapa Kita Turun Peringkat
Meskipun kinerja gemilang di jalur ekspor, kita harus jujur mengakui adanya pekerjaan rumah yang masih besar. Turunnya peringkat produksi ke posisi kelima mencerminkan adanya penurunan daya kompetisi dibandingkan Vietnam, India, dan bahkan Brasil.
Penyebab utamanya bukanlah hanya semata biaya tenaga kerja, Indonesia masih kompetitif di sini melainkan faktor birokrasi dan kepastian hukum. Aprisindo berulang kali menyuarakan bahwa industri ini masih terhambat oleh perizinan yang belum sepenuhnya memihak industri, proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) yang memakan waktu bertahun-tahun, serta ketidakpastian kebijakan di tingkat pusat dan daerah, termasuk kebijakan TKDN dan barang gunaan halal yang tidak mudah bagi industri khususnya industri kecil dan menengah.
Selain itu, sektor Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang berjumlah sekitar 53.333 unit usaha masih cukup lemah. Mereka menghadapi kendala akses modal, teknologi, dan pasar. Ketika permintaan global bergeser ke produk fast fashion yang lebih variatif, daya adaptasi IKM kita masih belum cukup kompetitif.
Ancaman eksternal juga nyata. Pada periode Januari–September 2025, permintaan Amerika Serikat terhadap produk alas kaki Indonesia turun hingga 23%. Fluktuasi tarif dan ketidakpastian ekonomi global adalah badai yang harus selalu diwaspadai.
Peluang: Jendela Emas yang Terbuka Lebar
Namun, tetap saja ada peluang di tengah tantangan tersebut. Dunia sedang mengalami pergeseran perpindahan pusat manufaktur akibat kebijakan pengurangan risiko rantai pasok dari China.
Pertama, ada gelombang relokasi pabrik. Data menunjukkan bahwa 27 perusahaan padat karya asal China dan Vietnam berencana memindahkan pabriknya ke Indonesia, dan sebagian besar bergerak di sektor alas kaki. Jika semua terealisasi, ini berpotensi menciptakan 120.000 lapangan kerja baru. Ini adalah momentum mengambil alih kapasitas produksi yang tidak boleh disia-siakan. Kedua, keunggulan komparatif di bidang tarif dan upah. Dalam kebijakan tarif timbal balik AS, Indonesia dikenakan tarif sekitar 19%, sementara Vietnam dikenakan 20%. Selisih 1% ini mungkin terlihat kecil, namun bagi perusahaan dengan volume miliaran dolar, ini adalah perbedaan yang signifikan. Ditambah dengan upah minimum di Jawa Tengah yang masih sekitar 135 dolar AS per bulan jauh lebih murah dibandingkan kawasan pabrik utama Vietnam maka Indonesia menjadi pilihan yang sangat rasional secara ekonomi. Ketiga, ekspansi pemain global. Pabrik sepatu raksasa, Pou Chen Group, telah menjadikan Indonesia sebagai pangkalan terbesarnya dengan porsi 46% dari total kapasitas global. Hua Li Group, pesaing utama Pou Chen, juga sudah mulai beroperasi di Indonesia dan merencanakan ekspansi besar-besaran dalam 3–5 tahun ke depan. Investasi dari para raja OEM alas kaki ini adalah sinyal kuat bahwa Indonesia dipercaya sebagai lokasi produksi jangka panjang. Keempat, dukungan pemerintah terus terarah dan konsisten. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045, industri tekstil dan alas kaki masuk sebagai sektor prioritas. Pemerintah juga telah mendorong Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) di Sidoarjo, yang sejak 2009 hingga 2025 telah melatih lebih dari 13.000 sumber daya manusia alas kaki. Target otomatisasi pabrik sebesar 20% pada 2027 melalui program Making Indonesia 4.0 juga akan mendongkrak produktivitas.
Realitas di dunia alas kaki saat ini bukan lagi pasar yang berkembang, melainkan pasar yang saling rebutan zero sum game. Total produksi global hanya naik 0,1% dan ekspor nyaris stagnan. Artinya, setiap pasang sepatu yang berhasil diekspor Indonesia adalah pasang yang direbut dari negara lain.
Indonesia tidak lagi menjadi produsen nomor 3, tetapi kita telah menjadi eksportir nomor 3. Itu adalah transformasi status yang penting: kita tidak dinilai dari berapa banyak yang kita buat, tetapi dari "berapa banyak yang kita jual dan kepada siapa".
Dengan rencana beberapa grup manufaktur besar yang siap pindah, keunggulan tarif dibanding Vietnam, komitmen pemain global, serta dukungan kebijakan RPJPN, Indonesia sedang berada di persimpangan sejarah. Target Indonesia untuk menembus 3 besar pusat manufaktur dan 3 besar eksportir pada tahun 2028 mampu direalisasikan, asalkan kita berani membenahi birokrasi, menggenjot pelatihan SDM yang kompeten, dan membangun ekosistem industri yang tangguh dan adaptif.
Peluang ini tidak akan terbuka selamanya. Indonesia harus mengambil peran lebih dominan untuk melangkah besar bukan hanya sebagai pengikut, tetapi sebagai pusat baru industri alas kaki dunia.
Ditulis oleh:
Alfiyan Darojat
Sumber:
World Footwear Yearbook 2026





