Oleh: Ria Mahmudah, Editor Alfiyan Darojat
Dalam industri alas kaki, sebuah desain tidak berhenti ketika goresan terakhir pada sketsa selesai. Desain benar-benar menemukan bentuknya ketika estetika, kebutuhan pemakai, realitas material, dan kemampuan produksi bertemu dalam satu produk. Perjalanan Lunelle karya Hani Amalia—juara Indonesia Footwear Creative Competition (IFCC) 2026—menawarkan potret menarik tentang bagaimana sebuah ide dapat bergerak dari meja desain menuju produk yang siap dikenakan.
Ketika desain harus berbicara kepada industri, ada gap yang menarik antara desain yang memenangkan perhatian di atas kertas dan desain yang mampu bertahan sebagai produk fashion. Dalam ruang kompetisi seperti IFCC, kreativitas dan kualitas eksekusi visual menjadi pusat perhatian utama. Di industri, pertanyaannya akan bergeser: siapa yang akan memakainya, bagaimana produk itu dibuat secara konsisten, material apa yang realistis digunakan, dan apakah desain tersebut memiliki relevansi melampaui satu musim tren?
Lunelle melalui portofolio bisnisnya memperlihatkan bagaimana pertanyaan-pertanyaan itu dapat dijawab sejak awal proses kreatif. Karya Hani Amalia yang meraih posisi juara IFCC 2026 kini memasuki tahap produksi melalui kolaborasi dengan SEVATU. Perjalanan tersebut menjadi contoh bahwa kesiapan industri bukanlah tahap finishing, melainkan cara berpikir yang sebaiknya hadir sejak desain pertama kali dibangun.
Salah satu fondasi penting dalam perjalanan Lunelle adalah kejelasan siapa yang hendak diajak berbicara oleh desain tersebut. Sejak IFCC 2026 digelar, peserta telah diperkenalkan pada persona brand SEVATU, karena karya pemenang nantinya akan diproduksi bersama brand tersebut. Lunelle diarahkan untuk segmen perempuan usia 18–30 tahun dengan gaya hidup aktif, tetapi tetap ingin mempertahankan sisi feminin dan berkelas—sebuah karakter yang dirangkum dalam persona "The Blooming Woman". Mereka dekat dengan estetika soft feminine, modern romantic, dan youthful-preppy; menyukai dress, rok midi, blouse dengan aksen lace, serta palet netral dan pastel.
Bagi seorang desainer, persona semacam ini bukan sekadar materi presentasi. Ia dapat menjadi filter untuk setiap keputusan visual dan teknis: bagaimana siluet dibentuk, seberapa banyak detail digunakan, seperti apa karakter material, hingga bagaimana kenyamanan diterjemahkan ke dalam produk sehari-hari. Di titik inilah desain menjadi lebih dari sekadar objek yang indah. Ia mulai memiliki pengguna dan pasar yang jelas, konteks pemakaian yang jelas, dan bahasa visual yang konsisten.
IFCC 2026 menilai karya melalui beberapa aspek penting, antara lain: konsep dan target market, eksplorasi desain, detail produk, potensi pasar, serta presentasi. Kelima aspek tersebut menarik karena membentuk cara pandang yang dekat dengan proses pengembangan produk fashion. Konsep harus memiliki arah. Eksplorasi desain perlu menunjukkan bahwa keputusan visual tidak lahir secara instan. Detail produk harus mampu membawa karakter desain hingga ke level yang lebih dekat dengan pengalaman pemakai. Pasar menguji apakah ide tersebut memiliki ruang untuk hidup sebagai produk. Sementara presentasi menjadi cara untuk menyampaikan keseluruhan gagasan secara meyakinkan.
Dengan demikian, sebuah desain tidak hanya dikritisi, "Apakah ini menarik secara visual?" tetapi juga, "Apakah konsepnya terbaca? Apakah eksplorasinya matang? Apakah detailnya bekerja? Apakah ada konsumen yang relevan? Dan apakah keseluruhan ide dapat dikomunikasikan dengan jelas?"
Kejelasan target pasar, menentukan “untuk siapa” berarti memahami lebih dari usia dan gender. Gaya hidup, preferensi estetika, kebiasaan berpakaian, serta kebutuhan fungsional akan memengaruhi keputusan desain mulai dari material, konstruksi, bentuk, sampai pertimbangan harga. Keseimbangan antara estetika dan fungsi, sepatu adalah objek fashion yang sekaligus bersentuhan langsung dengan tubuh. Karena itu, daya tarik visual perlu berjalan bersama kenyamanan dan kebutuhan aktivitas. Pada Lunelle, karakter feminin dan elegan dengan kebutuhan untuk digunakan dalam keseharian. Realitas material dan produksi, detail yang memukau di moodboard belum tentu mudah diwujudkan dalam skala produksi. Ketersediaan bahan menjadi bagian dari pertimbangan desain karena berpengaruh pada efisiensi, konsistensi pasokan, dan keterjangkauan harga. Desain yang siap masuk industri harus mampu menjaga identitas visualnya tanpa mengabaikan kenyataan manufaktur dan skala ekonomi.
Setelah konsep terbentuk, tantangan berikutnya adalah menerjemahkannya menjadi produk. Di sinilah peran mitra produksi menjadi penting. Kolaborasi Hani Amalia dengan SEVATU menjadi jembatan antara gagasan desain dan realitas manufaktur, termasuk dalam pemilihan bahan, proses produksi, serta pengenalan produk kepada pasar. Bagi industri fashion, proses ini penting untuk dipahami karena desain dan produksi bukan dua ruang yang sepenuhnya terpisah. Keduanya harus senantiasa dikomunikasikan dan dinegosiasikan. Keterbatasan konstruksi dapat memengaruhi bentuk; pilihan material dapat mengubah karakter visual; sementara kebutuhan pasar dapat memunculkan penyesuaian baru tanpa harus menghilangkan DNA desain.
Pada 30 Agustus 2026, Lunelle memasuki babak berikutnya melalui soft launching sebagai bagian dari program IFCC After the Competition yang dijalankan bersama SEVATU. Formatnya tidak berhenti pada peluncuran produk, tetapi menghadirkan workshop embroibeading yang mengajak peserta memasang manik-manik pada sepatu Lunelle. Detail yang biasanya hadir sebagai hasil akhir desain justru dibuka menjadi sebuah pengalaman. Peserta dapat memberikan sentuhan custom sesuai keinginan mereka, sehingga hubungan dengan produk tidak hanya terjadi ketika sepatu sudah selesai dipakai, tetapi juga ketika mereka ikut memahami dan membentuk detailnya.
Pendekatan tersebut sejalan dengan karakter persona Lunelle yang menghargai detail dan kualitas. Produk menjadi medium untuk mengalami craftsmanship, personalisasi, dan cerita di balik sebuah objek fashion. Perjalanan Lunelle menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah desain fashion tidak berhenti pada momen ketika karya dinyatakan sebagai pemenang. Kemenangan yang sesungguhnya justru dimulai ketika desain harus diterjemahkan menjadi produk yang dapat diproduksi, dikenakan, dipahami konsumen, dan memiliki ruang di pasar. Dari persona yang jelas, eksplorasi desain, keseimbangan estetika dan fungsi, hingga pertimbangan material serta kolaborasi produksi, setiap proses ikut membentuk kelayakan sebuah desain.
Pada akhirnya, jarak antara sketsa, produksi, dan pasar bukanlah sesuatu yang harus ditakuti oleh desainer. Justru di sanalah proses kreatif menjadi semakin menarik: ketika sebuah ide diuji oleh pasar lalu menemukan bentuk baru yang tetap membawa identitas awalnya. Lunelle menjadi salah satu contoh perjalanan tersebut—dari karya kompetisi menuju produk yang dirancang untuk menemani keseharian perempuan dengan gaya yang feminin, modern, dan personal.





