Selama ini, kita mungkin lebih sering fokus pada tampilan luar sepatu—mulai dari desain, warna, hingga mereknya. Namun, pernahkah Anda memikirkan apa yang ada di dalam sepatu Anda? Ya, insole atau bagian tapak dalam sepatu adalah kunci utama penentu kenyamanan kaki kita sehari-hari. Menangkap kebutuhan penting ini, Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) mengambil langkah strategis dengan menggandeng Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM). Kedua institusi ini resmi menjajaki kerja sama untuk mengembangkan inovasi insole kesehatan yang diproduksi langsung di dalam negeri.
Bermula dari diskusi hangat di BPIPI, tim riset insole UGM telah mengembangkan paduan bahan insole yang dibuat melalui teknologi 3D untuk menjawab kebutuhan pengguna alas kaki yang peduli dengan kesehatan kaki. Menangkap kebutuhan penting ini, UGM mengambil langkah strategis dengan menggandeng BPIPI menjajaki kerja sama untuk mengembangkan inovasi insole kesehatan yang diproduksi langsung di dalam negeri.
Inisiatif kolaborasi tersebut menjadi ajang seru untuk saling tukar ide dan potensi. Mulai dari urusan kebutuhan industri, peluang riset bersama, hingga pemanfaatan bahan baku lokal yang dibahas demi melahirkan produk alas kaki yang punya daya saing tinggi. Dari meja diskusi, kedua pihak sepakat bahwa inovasi ini tidak boleh cuma berakhir di atas kertas atau di dalam laboratorium. Dampak dan manfaatnya harus bisa dirasakan langsung oleh masyarakat sekaligus memperkuat industri alas kaki nasional.
Sebagai upaya menjawab tantangan ergonomi kaki orang Indonesia, tim BPIPI mengungkapkan sebuah fakta menarik. Salah satu tantangan terbesar industri alas kaki nasional saat ini adalah masih minimnya standar kenyamanan dan struktur (ergonomi) sol yang dirancang khusus sesuai dengan karakteristik unik bentuk kaki masyarakat Indonesia. "Sinergi antara BPIPI dan UGM ini diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang tidak hanya berbasis riset canggih, tapi punya manfaat nyata bagi masyarakat dan menjawab kebutuhan industri," ujar Syukur Idayati. Tim BPIPI juga menambahkan bahwa kehadiran insole kesehatan buatan dalam negeri akan menaikkan kelas produk sepatu lokal. Dengan produk yang lebih berkualitas dan kompetitif, sepatu Indonesia siap merebut hati konsumen di pasar domestik maupun global.
Sebagai tindak lanjut dan komitmen bersama, BPIPI dan UGM menjadikan kesempatan ini melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU). Kesepakatan ini menjadi payung hukum untuk pengembangan produk serta riset bersama, pengembangan teknologi, hingga komersialisasi produk ke masyarakat.
Menariknya, proses pengembangan insole kesehatan ini ke depan akan memanfaatkan teknologi 3D printing. Melalui teknologi ini, pembuatan desain dan purwarupa (prototype) insole bisa dilakukan jauh lebih cepat, presisi, dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan anatomi kaki penggunanya (customized). Hal ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemerintah (BPIPI) dan akademisi (FT UGM) merupakan wujud nyata dari konsep pentahelix. Ketika sains dari kampus bertemu dengan fasilitasi dari pemerintah dan kebutuhan dunia usaha, dampaknya akan langsung terasa di kaki masyarakat melalui kampanye Indonesia melangkah lebih nyaman dan bangga dengan produk buatan Indonesia.
Sinergi berbagai elemen ini diharapkan mampu mempercepat penguatan teknologi industri alas kaki, mendorong lahirnya produk-produk inovatif berbasis sumber daya lokal, serta meningkatkan daya saing industri nasional di tengah perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar yang semakin dinamis.
Sekali lagi BPIPI ingin menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai mitra strategis sebagai upaya mempercepat transformasi industri alas kaki Indonesia. Inovasi yang lahir dari sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan para pemangku kepentingan diharapkan tidak hanya memberikan nilai tambah bagi industri, tetapi juga menjadi kontribusi nyata dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berbasis inovasi dan teknologi.
Ditulis oleh:
Alfiyan Darojat & Dyah Pancawati T





