Jam Operasional

Senin-Kamis: 07.30- 16.00 WIB | Jumat: 07.30 - 16.30 WIB

Industri Hijau di IKM Alas Kaki: Antara Proses, Perilaku, dan Perubahan

Oleh: Rahasih Lupita Maheswari

Dalam momentum Hari Bumi, isu keberlanjutan kembali menjadi perhatian di berbagai sektor, termasuk industri alas kaki. Di tengah tuntutan untuk lebih ramah lingkungan, industri kecil dan menengah (IKM) menghadapi proses penyesuaian yang tidak selalu sederhana. Transformasi menuju industri hijau tidak hanya berkaitan dengan penggunaan material atau teknologi, tetapi juga menyangkut bagaimana sebuah sistem produksi dijalankan sehari-hari.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa keberlanjutan dalam industri tidak dapat dilihat secara parsial. Sukmawati dkk. (2020) menekankan bahwa praktik industri perlu dipahami sebagai satu kesatuan yang mencakup dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam rantai pasok. Ketiganya saling terhubung, mulai dari pemilihan bahan baku hingga produk sampai ke tangan konsumen. Dengan demikian, perubahan pada satu aspek saja belum cukup untuk menciptakan dampak yang menyeluruh.

Di sisi lain, faktor manusia memiliki peran yang tidak kalah penting. Saptaria (2021) menjelaskan bahwa aspek manajerial, kepemimpinan, serta penguasaan kompetensi teknologi hijau menjadi pendorong dalam implementasi industri hijau. Hal ini sejalan dengan temuan Ojeda-Gomez dkk. (2016) yang menekankan pentingnya kemampuan adaptasi dan kolaborasi dalam membangun keunggulan kompetitif. Dengan kata lain, transformasi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan teknologi, tetapi juga oleh cara berpikir dan kebiasaan kerja yang berkembang di dalam organisasi.

Dalam konteks pengukuran, Christiani dkk. (2017) menguraikan bahwa kinerja industri hijau dapat dilihat dari tiga aspek utama, yaitu proses produksi, pengelolaan limbah dan emisi, serta manajemen perusahaan. Ketiga aspek ini menjadi dasar untuk menilai sejauh mana prinsip keberlanjutan telah diterapkan. Selain itu, instrumen self-assessment yang disusun oleh Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) juga memberikan panduan praktis bagi pelaku industri, termasuk IKM, untuk mengevaluasi kondisi usahanya secara mandiri.

Sudah di Tahap Mana? Membaca Posisi IKM dalam Perjalanan Industri Hijau Dalam praktiknya, penerapan industri hijau pada IKM alas kaki menunjukkan dinamika yang beragam. Penelitian Maheswari (2024) mengidentifikasi adanya perbedaan tahapan dalam penerapan tersebut, yang secara umum dapat dilihat melalui tiga model, yaitu konvensional, pragmatic green, dan green enthusiast.

Model Perilaku Industri Kecil Alas Kaki Terhadap Industri Hijau

Model konvensional umumnya masih berfokus pada keberlangsungan produksi, dengan penerapan efisiensi yang lebih didorong oleh kebutuhan biaya. Pada tahap ini, aspek seperti pengelolaan energi, air, dan lingkungan belum menjadi perhatian utama. Sementara itu, pada model pragmatic green mulai terlihat adanya upaya adaptasi, seperti peningkatan efisiensi proses produksi dan perhatian terhadap penggunaan material, meskipun penerapannya belum konsisten di seluruh aspek.

Adapun pada model green enthusiast, penerapan prinsip industri hijau terlihat lebih terstruktur dan relatif merata. Hal ini tercermin dari upaya yang lebih konsisten dalam mengelola sumber daya, memperhatikan lingkungan kerja, serta mengintegrasikan praktik keberlanjutan ke dalam manajemen usaha.

Perbedaan antar model tersebut juga tercermin dalam pola hasil pengukuran. Model konvensional cenderung menunjukkan capaian yang rendah dan tidak merata di berbagai indikator. Model pragmatic green mulai mengalami peningkatan, meskipun masih terdapat kesenjangan antar aspek. Sementara itu, model green enthusiast memperlihatkan capaian yang lebih tinggi dan seimbang, menandakan bahwa praktik industri hijau telah diterapkan secara lebih konsisten.

Namun demikian, perbedaan ini tidak hanya dipengaruhi oleh kesiapan internal, tetapi juga oleh kondisi di lapangan. Sebagai contoh, pada IKM yang berlokasi di sekitar sungai atau waduk, ketersediaan air yang melimpah membuat penggunaannya cenderung tidak menjadi perhatian utama. Air digunakan sesuai kebutuhan produksi tanpa pengendalian yang ketat. Sebaliknya, pada IKM yang menggunakan air dari PDAM, terdapat kecenderungan perilaku yang lebih hemat dan terukur, karena penggunaan air berkaitan langsung dengan biaya dan ketersediaan.

Perbedaan perilaku tersebut menunjukkan bahwa cara pelaku IKM memandang dan menggunakan sumber daya sangat dipengaruhi oleh kondisi yang mereka hadapi sehari-hari. Dalam banyak kasus, perubahan justru dimulai dari aspek yang paling dirasakan dampaknya. Efisiensi pada proses produksi, misalnya, sering menjadi langkah awal karena berhubungan langsung dengan biaya. Sementara itu, pengelolaan energi dan perubahan kebiasaan kerja cenderung berkembang lebih lambat.

Kondisi ini menegaskan bahwa transformasi menuju industri hijau tidak berlangsung secara serentak di semua aspek, melainkan berkembang secara bertahap. Setiap IKM bergerak dengan ritme yang berbeda, menyesuaikan dengan prioritas dan kapasitas yang dimiliki.

Pernyataan Robert Swan bahwa "the greatest threat to our planet is the belief that someone else will save it" menjadi pengingat bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Dalam konteks IKM, langkah-langkah kecil dalam proses produksi sehari-hari justru menjadi fondasi penting dalam membangun praktik yang lebih berkelanjutan.

Pada akhirnya, setiap proses yang dijalankan akan meninggalkan jejak. Dari jejak tersebut, arah perkembangan industri—dan dampaknya terhadap lingkungan—akan terbentuk secara perlahan namun pasti.

Sumber:

Maheswari, R. L. (2024)
Model Perilaku Industri Kecil Alas Kaki dalam Penerapan "Industri Hijau"
Tesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya

Sukmawati, W., dkk. (2020)
Keberlanjutan Rantai Pasok IKM Alas Kaki
Jurnal Teknologi Industri Pertanian

Christiani, A., dkk. (2017)
Pengukuran Kinerja Lingkungan Industri berdasarkan Standar Industri Hijau

Ojeda-Gomez, J., dkk. (2016)
Achieving Competitive Advantage in the Footwear Industry
Benchmarking Journal