skip to Main Content

DAMPAK PANDEMI COVID19 PADA IKM ALAS KAKI

alfiyan darojat

Staff Tata Usaha

Normal
0

false
false
false

EN-ID
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:”Calibri”,sans-serif;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-ansi-language:EN-ID;}

Awal tahun 2020, optimisme bisnis masih terasa memberikan energi positif untuk melakukan ekspansi. Meskipuan pertumbuhan industri alas kaki nasional turun 1% dibandung tahun 2018, rencana ekspansi bisnis di tahun 2020 sudah menjadi agenda penting setiap unit bisnis termasuk industri alas kaki. Meski saat itu, awal tahun 2020 kinerja industri alas kaki sempat terganggu karena wabah covid 19 di Wuhan, industri alas kaki nasional sudah menyiapkan strategi alternatif diantaranya, strategi pencarian sumber bahan baku selain dari China karena jalur distribusi yang sempat terganggu.

Belum sampai pematangan rencana ekspansi bisnis, pukulan telak dampak covid19 di Wuhan China akhirnya sampai juga di Indonesia. Pastinya mulai awal Maret, dampak pandemi covid 19 ini menyerang sendi pertahanan industri alas kaki. Daya beli yang mulai menurun dibarengi dengan himbauan pemerintah bekerja dari rumah semakin membuat akses penjualan jatuh di angka 70%. Mode ekspansi bisnis yang disiapkan di awal tahun secara telak merubah menjadi mode bertahan (survive). Tidak banyak yang menyangka dampak pandemi bisa merubah model bisnis 360 derajat yang semula expansion mode menjadi survival mode. Beberapa industri skala menengah besar sudah merumahkan 50% tenaga kerja nya agal tetap berproduksi bahkan memilih tutup. Begitu pula beberapa industri skala menengah kecil hingga mikro merumahkan lebih dari 70% pekerjanya untuk bisa bertahan dalam situasi seperti saat ini.

Sebelum lebih dalam mendalami situasi dalam di IKM alas kaki nasional, data survey global industri alas kaki dampak dari covid19 (1) pada bulan Maret 2020 menunjukkan prediksi penurunan konsumsi alas kaki dunia sebesar 22.5%. Jika prediksi ahli dalam survey tersebut tepat, maka konsumsi alas kaki tahun ini akan turun menjadi 696 juta pasang di Amerika Utara (-21%), 908 juta pasang di Eropa (-27%) dan 2.4 milyar pasang di Asia (-20%). Dari data prediksi di atas, asumsi bahwa dampak pandemi covid19 cukum berdampak sistematis pada industri alas kaki global, termasuk di Indonesia sebagai salah satu pusat produksi terbesar ke-4 dunia (1.271 juta pasang) tahun 2019 dan negara eksportir ke-3 terbesar dunia (406 juta pasang) tahun 2019 (2).

Kembali ke situasi dalam negerai, berdasarkan survey pada 35 merk lokal pada bulan April 2020 (3)  menunjukkan bahwa pandemi ini sangat berdampak pada rantai produksi dan kemitraan yang selama ini terjalin dengan industri kecil. Dari data 35 merk lokal tersebut terdapat lebih dari 571 tenaga kerja terserap dan 182 IKM yang menjadi mitra dimana rata-rata IKM mempekerjakan 2-9 orang. Artinya dengan sampel 35 merk lokal saja, lebih dari 1500 tenaga kerja menyandarkan nasibnya pada industri alas kaki ini. Data ini belum termasuk industri yang mendukung rantai nilai produksi alas kaki, seperti bahan baku, aksesoris pendukung lainnya.

Dari data survey tersebut menunjukkan, IKM alas kaki membutuhkan intervensi pemerintah untuk mempertahankan produksi dan melakukan penjualan. Terdapat 5 besar masukan antara lain (1) adanya insentif pembiayaan (fiskal) khusus IKM, (2) kemudahan kebijakan tenaga kerja, (3) kemudahan distribusi material bahan baku, (4) relaksasi kredit dan (5) promosi produk IKM. Insentif pembiayaan bagi IKM dalam survey tersebut menjadi sangat penting untuk mempertahankan produksi saat ini. Insentif berupa stimulus kredit akan sangat membantu memberikan nafas pada IKM untuk mengatur cash flow di saat daya beli menurun.

Dari data survey tersebut, bahwa program insentif pembiayaan untuk IKM akan digunakan untuk mengelola kebutuhan bahan baku, biaya produksi termasuk di dalamnya biaya tenaga kerja, mengatur ulang cash flow perusahaan termasuk pinjaman dengan lembaga keuangan dan melakukan promosi.

Harapan besar industri alas kaki lokal, dengan adanya intervensi pemerintah ialah mempunyai daya tahan kuat selama pandemi covid19 dan mampu bangun kembali. Disamping itu pula pasti ada kesempatan, peluang dan hikmah dibalik setiap peristiwa. Banyak peristiwa besar selama ini yang memberikan hikmah bahwa peluang dan kesempatan besar justru muncul saat kesulitan menghadang. Selamat mencari peluang baru untuk lebih maju.

Note:
(1)    World Footwear Business Condition Survey – 1st Semester 2020, APICCAPS April 2020
(2)    World Footwear Yearbook 2019, APICCAPS 2019
(3)    Survey Local Brand terhadap 35 local brand tanggal 14-15 April 2020 terkait dampak covid19 (BSW & AKR)

(function(d, s, id) {
if(d.getElementById(‘fb-root’)) return;
var fbRoot = d.createElement(‘div’);
fbRoot.id = ‘fb-root’;
document.getElementsByTagName(‘body’)[0].appendChild(fbRoot);
var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0];
if (d.getElementById(id)) return;
js = d.createElement(s); js.id = id;
js.src = “https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js#xfbml=1&version=v2.12”;
fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs);
}(document, ‘script’, ‘facebook-jssdk’));

This Post Has 0 Comments

Tinggalkan Balasan

id_IDID