skip to Main Content

Potensi Pasar Domestik dan Strategi Mitigasi Resesi Industri Alas Kaki

Sebagaimana diketahui bahwa dalam konteks ekosistem industri alas kaki tujuan utama kegiatan ini adalah semakin menguatkan komunikasi sesama dan antar sektor industri alas kaki.

Setelah industri alas kaki di hadapkan pada tekanan pandemi covid, secara global kini terdapat potensi ancaman resesi pada tahun 2023. Meskipun masih menjadi prediksi para ahli dimana Indonesia akan terkena dampaknya, maka kita semua lebih baik menyiapkan strategi mitigasi resesi agar lebih siap dan mempunyai daya tahan lebih kuat.

Kementerian Perindustrian melalui Ditjen IKMA mendukung penuh kolaborasi BPIPI dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat dan Asosiasi Industri Persepatuan Provinsi Jawa Barat dalam Kegiatan Temu Pelanggan dengan sebagai upaya mempertemukan potensi IKM dengan berbagai industri pendukung dalam rangka menunjang kinerj ekspor.

Berdasarkan data BPS tahun 2021, terdapat 538 perusahaan skala besar dan menengah, dengan potensi nilai penjualan domestik sebesar Rp. 15,6 trilyun. Sedangkan untuk IKM skala kecil dan mikro terdapat 53,362 unit usaha yang tersebar di seluruh wilayah potensi IKM alas kaki di Indonesia dengan total penyerapan tenaga kerja total sebesar 247.843 TK.

Dengan potensi yang besar terhadap penyerapan tenaga kerja dan modal, Tahun 2021 Industri alas kaki nasional mampu memproduksi alas kaki 1,083 milyar pasang, naik dibandingkan tahun 2020 sebesar 1,036 milyar pasang (peringkat 4 dunia) dan berhasil melakukan ekspor sebesr 427 juta pasang naik dibandingkan tahun 2020 sebesar 366 juta pasang (peringkat 3 dunia).    

Meskipun tahun 2023 dihantui kembali resesi ekonomi dunia, namun pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian sangat yakin industri alas kaki nasional mampu bertahan. Pemerintah telah menyiapkan kebijakan fiskal maupun non fiskal sebagai upaya melakukan mitigasi resesi.

Salah satu program kemitraan yang di dorong adalah strategi kolaborasi. Berbagi platform (sharing) dengan mitra bisnis adalah jalan terbaik di saat kita tidak bisa melakukannya sendiri, termasuk sharing value dengan IKM yang lain menjasi pilihan terbaik di saat kita mempunyai keterbatasan.

Termasuk kebijakan non fiskal lainnya adalah stimulus bagi IKM beroerientasi ekspor berupa kemudahan impor bahan-bahan tertentu dengan tujuan ekspor termasuk mempermudah pengurusan KITE dan Neraca Komoditas bagi IKM. Prioritas integrasi perijinan mulai dari pengurusan NIB, OSS termasuk SIINAS yang dipermudah dan dipercepat khususnya perijinan yang sifatnya lintas sektoral melalui pendampingan industri. Mempermudah dan mempercepat IKM alas kaki mendapatkan sertifikat HaKI, sertifikat TKDN, pendaftaran e-katalog dan sistem mutu (ISO) melalui program fasilitasi industri. Serta membuka peluang pasar ekspor baru/ non tradisional ke negara-negara Timur Tengah, Asia Selatan dan Afrika.

Berdasarkan data dari BPS, kinerja ekspor impor industri alas kaki menunjukkan sinyalemen positif. Tahun 2022 kuartal 3, ekspor alas kaki sebesar USD 5,949 milyar atau naik dibanding tahun 2021 kuartal 3 (USD 4,388 milyar). Sedangkan tahun 2022 kuartal 3, impor alas kaki sebesar USD 758 juta atau naik dibandingkan tahun 2021 kuartal 3 (USD 511 juta). Meskipun ada potensi resesi,  tahun 2022 kuartal 3 neraca perdagangan industri alas kaki surplus sebesar USD 5,191 milyar.

Ekosistem industri alas kaki nasional sangat dinamis, maka strategi penting berikutnya adalah pro aktif. Kementerian Perindustrian mendorong IKM untuk melakukan inovasi agar lebih kompetitif saat menghadapi resesi.

Prioritas bersama saat ini adalah memperkuat ekosistem industri alas kaki, agar setiap entitas industri baik kecil, menengah dan besar dapat saling memberikan kehidupan sehingga terbentuk domestic suppy chain yang kuat, tumbuhnya industri pendukung alas kaki, penguasaan brand lokal di pasar domestik dan bertambahnya IKM yang naik kelas. Dengan ekosistem industri alas kaki yang kuat, industri alas kaki nasional akan lebih mandiri dan kuat. Terima kasih

id_IDID