LIMA 5 PENDORONG PERUBAHAN INDUSTRI SELAMA PANDEMI, AYO BERSIAP BERSAMA !!!

ALFIYAN DAROJAT

Staff Tata Usaha

Hampir 2 tahun pendemi berlangsung di Indonesia. Sejak awal tahun 2020, telah banyak sektor industri nasional mengalami dampak penurunan kinerja. Tidak terkecuali industri alas kaki nasional yang terganggu pertumbuhannya, termasuk di dalamnya IKM alas kaki yang mengalami penurunan penjualan di awal pandemik karena terganggunya pasokan bahan baku.

Ada setidaknya 5 pendorong perubahan perubahan industri selama pandemi ini. Nah bagaimana kita semua melakukan penyesuaian bahkan melakukan transformasi? Yuk, …. cermati bersama beberapa perubahan tersebut:

1.     Penanganan Pandemi dan Kesiapan Vaksin

Dinamika industri nasional khususnya alas kaki sangat terpukul saat pandemi. Perubahan kinerja manufaktur saat ini sangat ditentukan oleh bagaimana penanganan pandemi oleh pemerintah sekaligus kemampuan penyediaan dan distribusi vaksin. Faktor tersebut menjadi sangat vital karena selama penyebaran virus belum bisa dikendalikan. Sementara pemenuhan kebutuhan vaksin belum mampu segera dipenuhi yang berakibat pada seluruh elemen ekonomi nasional termasuk beberapa sektor industri yang sempat lumpuh. Namun kita tetap harus optimis, bahwa sudah ada titik terang penanganan pandemi dan produksi vaksin. Harapannya sentimen konsumen, industri dan masyarakat akan depat pulih, daya beli kembali bangkit.

2.     Kecemasan Sosial

Adanya pandemi hingga saat ini menimbulkan keresahan dan ketakutan di masyarakat. Ketakutan akan kehilangan pekerjaan, jatuh miskin dan cemas akan berkurangnya aktualisasi diri termasuk bangkrutnya usaha. Kecemaran dan keresahan tersebut berawal dari individu yang kemudian berkembang pada level kelompok dan berujung pada depresi, isolasi hingga munculnya banyak kejahatan. Pada fase ini sisi kemanusiaan dan kebijaksanaan sangat langka di masyarakat. Namun jangan kuatir, pasti ada hikmah saat pandemi. Semangat kita semua untuk saling membantu dan menolong sesama di masyarakat terus tumbuh saat pandemi hingga pandemi berlalu.

3.     Bangkitnya Nasionalisme

Saat pandemi seperti ini, setiap negara termasuk Indonesia akan berjuang keras melindungi kepentingan nasionalnya. Mulai dari pembatasan mobilitas warga, arus keluar masuk barang (ekspor – impor) dan kontrol perbatasan untuk menjaga kepentingan masing-masing negara. Adanya Covid-19 menjadi mendorong semangat nasionalisme seiring meningkatkan friksi antar negara atas nama melindungi kepentingan nasional. Pendemi merupakan antithesis dari globalisasi. Kalau kita cermati 1 tahun terakhir bangkitnya semangat merk lokal untuk bertahan bersama dan tumbuh bersama. Yuk… terus bangga produk lokal dengan membeli dan menggunakannya.

4.     Terganggunya Supply Chain Global

Rantai nilai industri lokal dan global saat ini sedang terganggu. Mobilitas arus barang saat ini mengalami bottle neck saat melintas antar negara. Dampaknya akan serius pada sektor industri manufaktur yang terhubung dengan pasar global. Namun ada hikmahnya karena dalam skala regional beberapa sektor industri akan membangun resiliensi pada ekosistem rantai nilai skala regional bahkan lokal, sehingga rantai nilai akan terkonsentrasi pada skala nasional atau regional. Implikasinya adalah ketergantungan bahan pasok global akan semakin dikurangi kedepan.

5.     Percepatan Digitalisasi

Pandemi menjadi media mempercepat migrasi industri melakukan digitalisasi. Munculnya kebiasaan baru #workformhome #stayathome menjadikan seluruh aktifitas yang semula dilakukan di kantor bisa dilakukan secara digital dari rumah, bahkan dalam urusan beribadah terjadi kebiasaan baru untuk mengurangi sementara aktifitas di tempat ibadah. Sehingga agenda transformasi digital menjadi prioritas bagi perusahaan untuk survive dan tumbuh saat pandemi.

Ayo kita semua bersiap untuk melakukan perubahan, Salam Sepatu